Bagaimana
semua orang menikmati indahnya pagi. Semua hal indah di pagi hari yang diawali
dengan matahari yang merangkak naik di ufuk barat dengan sedikit-sedikit.
Mengapa sedikit-sedikit? Entahlah, apa
mungkin matahari pelit, atau memang gak bisa banyak-banyak, atau memang
seharusnya begitu. Oke apapun itu, hanya diawali hal itu, semua hal ikut-ikutan
semakin semacam berpadu untuk mengindahkan pagi. Yang kalau di malam hari ada
bulan dan bintang yang berkolaborasi mengindahkan malam, di pagi hari ada
matahari, embun, kabut, segala binatang yang gak begadang dan lain-lain
Matahari,
ya setidaknya seperti kamu yang malu-malu namun indah. Mataharipun begitu
disaat terbit. Setelah seharian keliling dunia, saat itu kamu diberi kesempetan
buat menjamunya di daerahmu. Setelah semalaman ada dibawahmu (menganut konsep
rotasi bumi), kini dia akan gantian membawahimu. Kita harusnya bersyukur karena
matahari masih belum merasa bosan karena melakukan aktivitas yang selalu sama
di setiap harinya. Yaitu terbit dari timur dan terbenam di barat. Yup, kalian
harus sukuri itu. Disetiap pagi aku mencoba menyapa matahari. Namun gak pernah
dijawab. Entah karena matahari gak ngerti bahasa Indonesia atau karena memang
dia sombong, entahlah.. Tapi aku tetap menyapanya. Kadang juga bersenda gurau,
kadang marah-marahan atau kadang melakukan hal-hal bodoh lain. Matahari
begitulah aku memanggilnya. Namun Rooney memanggilnya dengan "sun".
Tapi tak apalah, aku menghargai perbedaan. Aku dan Rooney tak pernah
memperdebatkan perbedaan tersebut dan kami memang tak pernah atau belum
bertemu.
Mari
sejenak kita beralih dari matahari. Ada juga embun di pagi hari. Tentunya
kalian mengenal embun. Atau kalian pernah menjadi temannya, atau malah kalian
adalah salah satu mantannya. Ohh tidak, disini embun bukanlah embun teman
kalian atau mantan kalian. Disini embun adalah air mata dari dedaunan
pohon-pohon yang kemarin malem nangis gara-gara barusan putus sama pohon
LDR-annya. Seperti pohon di belakang rumahku yang LDR-an sama pohon sakura di
Jepang. Kalian mungkin bingung.. Sama, aku juga ganteng.. Kalian mungkin punya
persepsi lain tentang embun. Tapi janganlah diperdebatkan. Kan gak lucu kalau
kalian berantem cuma gara-gara embun. Begitulah embun, yang asyik nongkrong di
daun-daun dan akan tiba-tiba menghilang disaat matahari semakin tinggi.
Ada
sebuah benda yang masih 11-12 sama embun, yaitu kabut. Kenapa begitu? Karena
kalau embun sudah bersifat cair dan menempati daun, sedangkan kabut masih
bersifat cairan gagal dan gak dapet daun buat ditongkrongin. Kenapa embun
adalah cairan yang gagal? Ya mungkin karena dia kurang bersungguh-sungguh atau
memang masih belum waktunya. Namun suatu saat percaya aja kalau kabut tersebut
akan sukses dan menjadi embun. Dan kenapa juga dia gak dapet daun buat
ditongkrongin? Daun itu bagi kabut atau embun adalah ibarat rumah kontrakan. Kalau
ingin menempati kontrakan, tentunya kalian harus membayar uang sewa. Yup,
mungkin karena si kabut gak punya cukup uang buat bayar sewa, jadi dia gak
dapet daun untuk ditongkrongin. Mungkin salah satu dari kalian berasumsi kalau
kabut itu adalah sejenis asap yang dihasilkan oleh pohon-pohon yang nyimeng.
Tapi apapun asumsi kamu, itulah asumsi kamu. Jadi, just go with it. (catatan
kecil : jika kalian menemukan kalimat yang berisi seakan aku sok tahu, tabahlah
menghadapinya)
Dan
tidak lupa juga hewan-hewan pagi yang ikut menyambut pagi. Memang ada banyak,
namun disini aku hanya akan menyebutkan dua hewan hasil voting teratas yang aku
dapatkan dari abang-abang yang hobi main catur dan ibu-ibu yang selalu tampak
sibuk memilah dan memilih sayuran paling cute dari gerobak tukang sayur. Dan
kedua hewan itu adalah… jeng-jeng-jeng. Ayam dan burung. Mungkin kalian
bertanya-tanya mengapa ayam dan burung? Mengapa bukan semut, capung, jerapah,
koala atau yang lainnya? .. Atau mungkin kalian tidak bertanya-tanya, dan
menggunakan hati pesimis untuk menjawabnya. Namun aku pun bertanya-tanya dan
mencari jawabannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar