Jumat, 18 Mei 2012

Selamat Pagi!



Bagaimana semua orang menikmati indahnya pagi. Semua hal indah di pagi hari yang diawali dengan matahari yang merangkak naik di ufuk barat dengan sedikit-sedikit. Mengapa sedikit-sedikit? Entahlah,  apa mungkin matahari pelit, atau memang gak bisa banyak-banyak, atau memang seharusnya begitu. Oke apapun itu, hanya diawali hal itu, semua hal ikut-ikutan semakin semacam berpadu untuk mengindahkan pagi. Yang kalau di malam hari ada bulan dan bintang yang berkolaborasi mengindahkan malam, di pagi hari ada matahari, embun, kabut, segala binatang yang gak begadang dan lain-lain
                                                                                                    




Matahari, ya setidaknya seperti kamu yang malu-malu namun indah. Mataharipun begitu disaat terbit. Setelah seharian keliling dunia, saat itu kamu diberi kesempetan buat menjamunya di daerahmu. Setelah semalaman ada dibawahmu (menganut konsep rotasi bumi), kini dia akan gantian membawahimu. Kita harusnya bersyukur karena matahari masih belum merasa bosan karena melakukan aktivitas yang selalu sama di setiap harinya. Yaitu terbit dari timur dan terbenam di barat. Yup, kalian harus sukuri itu. Disetiap pagi aku mencoba menyapa matahari. Namun gak pernah dijawab. Entah karena matahari gak ngerti bahasa Indonesia atau karena memang dia sombong, entahlah.. Tapi aku tetap menyapanya. Kadang juga bersenda gurau, kadang marah-marahan atau kadang melakukan hal-hal bodoh lain. Matahari begitulah aku memanggilnya. Namun Rooney memanggilnya dengan "sun". Tapi tak apalah, aku menghargai perbedaan. Aku dan Rooney tak pernah memperdebatkan perbedaan tersebut dan kami memang tak pernah atau belum bertemu.

Mari sejenak kita beralih dari matahari. Ada juga embun di pagi hari. Tentunya kalian mengenal embun. Atau kalian pernah menjadi temannya, atau malah kalian adalah salah satu mantannya. Ohh tidak, disini embun bukanlah embun teman kalian atau mantan kalian. Disini embun adalah air mata dari dedaunan pohon-pohon yang kemarin malem nangis gara-gara barusan putus sama pohon LDR-annya. Seperti pohon di belakang rumahku yang LDR-an sama pohon sakura di Jepang. Kalian mungkin bingung.. Sama, aku juga ganteng.. Kalian mungkin punya persepsi lain tentang embun. Tapi janganlah diperdebatkan. Kan gak lucu kalau kalian berantem cuma gara-gara embun. Begitulah embun, yang asyik nongkrong di daun-daun dan akan tiba-tiba menghilang disaat matahari semakin tinggi.

Ada sebuah benda yang masih 11-12 sama embun, yaitu kabut. Kenapa begitu? Karena kalau embun sudah bersifat cair dan menempati daun, sedangkan kabut masih bersifat cairan gagal dan gak dapet daun buat ditongkrongin. Kenapa embun adalah cairan yang gagal? Ya mungkin karena dia kurang bersungguh-sungguh atau memang masih belum waktunya. Namun suatu saat percaya aja kalau kabut tersebut akan sukses dan menjadi embun. Dan kenapa juga dia gak dapet daun buat ditongkrongin? Daun itu bagi kabut atau embun adalah ibarat rumah kontrakan. Kalau ingin menempati kontrakan, tentunya kalian harus membayar uang sewa. Yup, mungkin karena si kabut gak punya cukup uang buat bayar sewa, jadi dia gak dapet daun untuk ditongkrongin. Mungkin salah satu dari kalian berasumsi kalau kabut itu adalah sejenis asap yang dihasilkan oleh pohon-pohon yang nyimeng. Tapi apapun asumsi kamu, itulah asumsi kamu. Jadi, just go with it. (catatan kecil : jika kalian menemukan kalimat yang berisi seakan aku sok tahu, tabahlah menghadapinya)

Dan tidak lupa juga hewan-hewan pagi yang ikut menyambut pagi. Memang ada banyak, namun disini aku hanya akan menyebutkan dua hewan hasil voting teratas yang aku dapatkan dari abang-abang yang hobi main catur dan ibu-ibu yang selalu tampak sibuk memilah dan memilih sayuran paling cute dari gerobak tukang sayur. Dan kedua hewan itu adalah… jeng-jeng-jeng. Ayam dan burung. Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa ayam dan burung? Mengapa bukan semut, capung, jerapah, koala atau yang lainnya? .. Atau mungkin kalian tidak bertanya-tanya, dan menggunakan hati pesimis untuk menjawabnya. Namun aku pun bertanya-tanya dan mencari jawabannya.

Ayam dan burung yang berkokok dan berkicau. Seakan mereka sedang berdebat. Atau mereka melakukannya karena tidak punya kesibukan lain. Namun sebenarnya ada arti terdalam dari semua itu. Sejauh ini aku belum pernah menemui ayam yang berkokok atau burung yang berkicau dengan suara fales. Mereka gak pernah ikut les vokal. Berkokok dan berkicau sudah ada dalam gen mereka. Aku punya tetangga, dan tetanggaku punya ayam. Ayamnya sangat langka dan berharga mahal. Dan setelah aku telusuri lebih lanjut, ayam tersebut mahal karena kalau berkokok pake suara falseto. Dan para burung yang berkicau dengan cueknya. Dia gak peduli apa ada orang yang mau denger kicauannya atau enggak. Kita gak pernah tau arti kicauan itu. Apakah itu nyanyian? Apakah itu gumaman? Curhatan? Quotes? Atau cuma sekedar iseng. Yah apapun itu, berkokok dan berkicau. Dua kegiatan yang sama dengan kegundahan para pemuda, sering dan rutin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar