Sabtu, 12 Mei 2012

Ini Baru Namanya Curhat

                                                                 Kopi Kemasan Baru

Di pagi hari aku biasa bersantai sambil menikmati segelas kopi susu. Lalu aku pun menuju ke dapur dan bermaksud membuat secangkir kopi susu dari sebuah produk yang biasa aku buat. Baru saja aku memasuki dapur, aku melihat kopi susu sebuah produk yang lain. Entah siapa yang membelinya, tapi aku penasaran ingin mencoba rasa kopi susu produk baru tersebut. Kemasannya yang berpenampilan mencolok. Dengan didominasi warna coklat dan ada warna strip merah, putih, hijau seperti bendera itali. Kemudian aku menuangkan bubuk kopi susunya, mengisinya dengan air mendidih sampai hampir memenuhi gelas dan sentuhan terakhir, menuangkan bubuk pelengkap yang bungkusnya terpisah namun masih satu bagian dengan produk kopi tersebut. Here we go! Aku menyruput sedikit demi sedikit kopi susu yang masih panas tersebut. Pada sruputan pertama aku hanya mendapati busa dan ampas bubuk tadi. Namun selanjutnya aku bisa merasakan cair kopi susu tersebut. Dan.. Rasanya ternyata agak aneh menurutku. Creamnya yang terlalu banyak membuat kita terlalu naif bila menyebut sekumpulan cairan tersebut sebagai kopi susu. Aku lebih merasakan susu vanila didalamnya. Aku rasakan lagi dan lagi-lagi memang criemnya yang terlalu banyak. Sempat terbesut sebuah pemikiran untuk menambahkan bubuk kopi asli ke minumanku tersebut. Tapi aku pikir-pikir lagi ternyata aku takut kalau rasanya malah semakin tidak karuan. Jadi aku merubah cara berpikirku. Mengatakan kepada pikiran ku kalau yang aku minum itu terasa kopinya. Dan ternyata tidak bisa. Pikiranku menolak! Jadi aku rubah lagi pemikiranku. Aku katakan kepada pikiranku kalau itu adalah susu vanila. Dan ternyata, berhasil! Selagi aku bisa menguasai pikiranku, dengan sigap aku berangsur-angsur menghabiskan minuman yang dengan naif ingin disebut dengan kopi susu walaupun lebih berasa seperti susu kopi tersebut. Dan ketika minuman tersebut habis, aku mulai menyadarkan pikiranku dan pergi ke dapur untuk membuat kopi yang biasa aku buat sehari-harinya. Dan kembali aku bersantai dengan menikmati kopi susu yang sudah aku kenal

                                                                     Tak Berkutik

Siang yang panas. Ya, sama dengan siang kemarin. Aku menikmati beberapa batang rokok sambil bersantai. Siang itu aku baru saja bangun tidur, namun aku tidak membuat kopi. Karena paginya aku sudah minum satu gelas kopi. Beberapa saat setelah itu aku beranjak menuju ke kamar mandi kemudian menunaikan sholat dhuhur. Kemudian perutku terasa lapar, jadi aku langsung menuju ke dapur. Apakah aku sudah pernah bilang kalau aku tidak suka nasi yang panas? Aku kira belum. Ya aku tidak suka dengan nasi yang masih panas. Mungkin kalau hangat, aku masih toleransi. Namun jika nasinya panas tidak. Jadi aku menaruh nasi yang panas tersebut diatas piring lalu menunggunya agar sedikit berkurang panasnya. Dan beberapa saat kemudian aku mulai makan. Baiklah, selamat makan. Suapaya lebih nikmat, aku juga menyiapkan kerupuk udang yang baru saja digoreng adikku yang tidak terlalu lihai menggoreng kerupuk. Jadi seharusnya kerupuk itu selebar telapak tangan orang dewasa, namun hanya selebar genggaman tangan orang dewasa. Aku terus menyendokkan makanan lalu ku makan, begitu terus. Entahlah tapi aku rasa lama sekali makanan tersebut habis ku makan. Dan ternyata memang seperti biasanya, aku kebanyakan mengambil makanan. Apa boleh buat, aku harus menghabiskannya. Perut sudah semakin kenyang, namun makanan ku masih terasa banyak. Tapi aku tetap bertekad untuk menghabisakannya. Aku tak mau makanan itu nantinya mubadzir. Dan akhirnya… aku bisa menghabiskannya. Ahh tapi benar-benar terasa sesak sekali perutku. Benar-benar tidak enak rasanya kekenyangan. Mau ngapain aja susah. Aku benar-benar tidak berkutik. Aku pun hanya duduk diam menunggu sampai perutku sedikit longgar. Jadi kawan-kawan, berperasaanlah dalam mengambil makanan. Usahakan kamu mengambil makanan sesuai dengan batas sebelum kenyangmu. Kalau kamu masih tidak bisa berperasaan dalam mengambil makanan, carilah pacar. Untuk mengambilkan makanan untukmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar