Kopi Kemasan Baru
Di pagi hari aku biasa bersantai sambil menikmati segelas
kopi susu. Lalu aku pun menuju ke dapur dan bermaksud membuat secangkir kopi
susu dari sebuah produk yang biasa aku buat. Baru saja aku memasuki dapur, aku
melihat kopi susu sebuah produk yang lain. Entah siapa yang membelinya, tapi
aku penasaran ingin mencoba rasa kopi susu produk baru tersebut. Kemasannya
yang berpenampilan mencolok. Dengan didominasi warna coklat dan ada warna strip
merah, putih, hijau seperti bendera itali. Kemudian aku menuangkan bubuk kopi
susunya, mengisinya dengan air mendidih sampai hampir memenuhi gelas dan
sentuhan terakhir, menuangkan bubuk pelengkap yang bungkusnya terpisah namun
masih satu bagian dengan produk kopi tersebut. Here we go! Aku menyruput
sedikit demi sedikit kopi susu yang masih panas tersebut. Pada sruputan pertama
aku hanya mendapati busa dan ampas bubuk tadi. Namun selanjutnya aku bisa
merasakan cair kopi susu tersebut. Dan.. Rasanya ternyata agak aneh menurutku.
Creamnya yang terlalu banyak membuat kita terlalu naif bila menyebut sekumpulan
cairan tersebut sebagai kopi susu. Aku lebih merasakan susu vanila didalamnya.
Aku rasakan lagi dan lagi-lagi memang criemnya yang terlalu banyak. Sempat
terbesut sebuah pemikiran untuk menambahkan bubuk kopi asli ke minumanku
tersebut. Tapi aku pikir-pikir lagi ternyata aku takut kalau rasanya malah
semakin tidak karuan. Jadi aku merubah cara berpikirku. Mengatakan kepada
pikiran ku kalau yang aku minum itu terasa kopinya. Dan ternyata tidak bisa.
Pikiranku menolak! Jadi aku rubah lagi pemikiranku. Aku katakan kepada
pikiranku kalau itu adalah susu vanila. Dan ternyata, berhasil! Selagi aku bisa
menguasai pikiranku, dengan sigap aku berangsur-angsur menghabiskan minuman
yang dengan naif ingin disebut dengan kopi susu walaupun lebih berasa seperti
susu kopi tersebut. Dan ketika minuman tersebut habis, aku mulai menyadarkan
pikiranku dan pergi ke dapur untuk membuat kopi yang biasa aku buat
sehari-harinya. Dan kembali aku bersantai dengan menikmati kopi susu yang sudah
aku kenal
Tak Berkutik
Siang yang panas. Ya, sama dengan siang kemarin. Aku
menikmati beberapa batang rokok sambil bersantai. Siang itu aku baru saja
bangun tidur, namun aku tidak membuat kopi. Karena paginya aku sudah minum satu
gelas kopi. Beberapa saat setelah itu aku beranjak menuju ke kamar mandi
kemudian menunaikan sholat dhuhur. Kemudian perutku terasa lapar, jadi aku
langsung menuju ke dapur. Apakah aku sudah pernah bilang kalau aku tidak suka
nasi yang panas? Aku kira belum. Ya aku tidak suka dengan nasi yang masih panas.
Mungkin kalau hangat, aku masih toleransi. Namun jika nasinya panas tidak. Jadi
aku menaruh nasi yang panas tersebut diatas piring lalu menunggunya agar
sedikit berkurang panasnya. Dan beberapa saat kemudian aku mulai makan.
Baiklah, selamat makan. Suapaya lebih nikmat, aku juga menyiapkan kerupuk udang
yang baru saja digoreng adikku yang tidak terlalu lihai menggoreng kerupuk.
Jadi seharusnya kerupuk itu selebar telapak tangan orang dewasa, namun hanya
selebar genggaman tangan orang dewasa. Aku terus menyendokkan makanan lalu ku
makan, begitu terus. Entahlah tapi aku rasa lama sekali makanan tersebut habis
ku makan. Dan ternyata memang seperti biasanya, aku kebanyakan mengambil
makanan. Apa boleh buat, aku harus menghabiskannya. Perut sudah semakin kenyang,
namun makanan ku masih terasa banyak. Tapi aku tetap bertekad untuk
menghabisakannya. Aku tak mau makanan itu nantinya mubadzir. Dan akhirnya… aku
bisa menghabiskannya. Ahh tapi benar-benar terasa sesak sekali perutku.
Benar-benar tidak enak rasanya kekenyangan. Mau ngapain aja susah. Aku
benar-benar tidak berkutik. Aku pun hanya duduk diam menunggu sampai perutku
sedikit longgar. Jadi kawan-kawan, berperasaanlah dalam mengambil makanan.
Usahakan kamu mengambil makanan sesuai dengan batas sebelum kenyangmu. Kalau
kamu masih tidak bisa berperasaan dalam mengambil makanan, carilah pacar. Untuk
mengambilkan makanan untukmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar