Kemarin
malem tepatnya tanggal 24 April 2012 aku iseng-iseng belajar matematika dari
salah satu buku modulku waktu masih SMA. Iya, SMA! Masa-masa terindah para
pelajar dan para pencari jati diri dan para pencari pacar. Aku pun membuka bab
pertamanya, dan membaca tulisan besar di bagian atas halaman tersebut.
Tertulis,"Logika Matematika". Aku mengingat bab itu dan memang dulu
aku sempat kesulitan dengan bab itu. Tapi aku sangat menyukai Matematika. Entah
ada apa dengan bab yang itu sehingga membuatku sedikit kewalahan. Mungkin
karena saking banyaknya rumus yang harus dihafal. Sedangkan aku adalah karakter
pelajar yang lebih suka memahami rumus daripada menghafalkannya. Seperti mood
seorang cewek. Jangan dihafalin, karena mood cewek-cewek emang pergantiannya
cepat. Dipahami aja.
Kebanyakan
rumus dari bab logika matematika sulit dipahami dan beberapa ada yang memang
hanya bisa dihafalkan. Ada kata-kata negasi, kata majemuk yang disajikan dengan
lambang-lambang, sampai kata-kata seperti konvers, invers, kontraposisi dan
masih banyak lagi. Seketika aku berpendapat kalau logika matematika itu
berusaha menyajikan kalimat-kalimat yang bisa diotak-atik menjadi rumus.
Seperti, "Jika hujan Ani tidak pergi ke Pasar, Jika sakit Ani tidak pergi
kepasar" menjadi "jika hujan, Ani sakit". Ya kira-kira
begitulah. Atau "aku cinta kamu, kamu cinta dia" menjadi
"hubungan segitiga dong! Eyya!!". Juga sempat terlewat dalam
pikiranku kalau logika matematika terlalu mengentalkan logika daripada
perasaan. Entahlah..
Kemudian
aku membuka bab kedua dari buku modul ini. Dan memang bab inilah yang menjadi
salah satu bab favoritku waktu aku SMA. Kalau mantan, sama kayak mantan
terindah. Coba kalian baca dengan teliti, bab itu adalah "persamaan
kuadrat, fungsi kuadrat dan pertidaksamaan kuadrat". Memang itu merupakan
bab yang rumit, namun dulu aku bisa dan mengerti. Juga selalu aktif dalam bab
tersebut. Kalau saja, seperti cewek yang sulit jatuh cinta, tapi entah kenapa
bisa jatuh cinta dengan mudah jika pada orang yang tepat. Ya kira-kira begitu.
Aku
pun dengan hikmat membaca satu persatu tulisan yang tertera, sambil sesekali
menyadari dan ingat kembali kemudian bilang, "owhh, yang dulu itu".
Awalnya sih lancar-lancar aja, namun setelah semakin lama, aku mulai kesulitan
mengingat beberapa rumus yang dulu aku sangat mengenalnya. Mungkin bukan Cuma
mengenalnya, kami berteman dekat. Namun sekarang aku benar-benar lupa
dengannya. Aku pun membacanya berulang-ulang dan membuat coretan-coretan kecil
di sampingnya. Tiba-tiba terbesut suatu hal di pikiranku, mungkin jika aku
langsung ke contoh soal, aku bisa mengenalnya kembali. Dan ternyata berhasil!
Sedikit-sedikit aku mulai ingat dan seperti mengawali perkenalan baru. Hal itu
membuatku semangat, sehingga aku berkeinginan untuk menuju jenjang
"soal" bukan lagi yang contoh soal, namun ini soal sejati!
Jeng-jeng-jeng.
Aku baca pertanyaan dengan teliti dan sesekali mengulang-ulangnya. Dan rasanya
seperti, blank!
Owh,
kalau di contoh soal masih ada panduan untuk mengerjakannya, namun ketika
memasuki soal, seperti-seperti ditinggalkan sendirian terbenam dalam
angka-angka dan simbol matematika. Rasanya hampir sama dengan ditinggal move-on
ileh mantan. Hehehe, maaf jangan galau mendadak ya.
Lalu
aku pun menjadi merasa sedikit pusing. Memang beberapa hal kalau sudah
dikuadrat bakalan bikin rumit dan bikin pusing. Bukan cuma persamaan doang,
hubungan perpacaran juga, mungkin. Hemm, sambil memijat-mijat leherku untuk
mengurangi rasa pusingku, aku terus memperhatikan pertanyaan tersebut. Disaat
aku melihat pilihan jawaban, ada sebuah cawang kecil di samping huruf
"C". Iya! Itu adalah jawabanku mungkin satu tahun silam ketika aku
masih benar-benar mengenal bab itu. Dalam hati aku memberontak, "itu asli
adalah jawabanku! Aku dulu pernah mengerjakannya dan bisa!, namun kenapa
sekarang aku benar-benar lupa? Sepertinya aku mulai melupakan bab ini".
Oh, bab kuadrat, aku merindukanmu dan merindukanku yang dulu masih mengenalmu.
Ciyee, move on dari mantan lama tapi move-on pelajaran cepet. Hedehh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar